Asam Folat: Cegah Jantung dan Alzheimer
Wednesday, Mar 16 2016 at 10:40 PM

JAKARTA, KOMPAS.com - Asam folat atau folat sangat dibutuhkan manusia. Kekurangan zat ini mengakibatkan bayi lahir cacat. Folat dapat mencegah penyakit kardiovaskular, Alzheimer, dan kanker. Sayuran berwarna hijau tua, buah-buahan, biji-bijian, susu, daging, dan sereal merupakan sumber alami folat.

Istilah asam folat atau folat merupakan salah satu komponen dari vitamin B kompleks. Asam folat, sebagai bentuk yang paling stabil, sangat jarang terdapat dalam pangan atau dalam tubuh manusia.

Asam folat umumnya digunakan sebagai komponen dalam suplemen vitamin atau fortifikan pada pangan. Dalam praktiknya, istilah folat mengacu pada bentuk folat yang terdapat secara alami dalam bahan pangan, sedangkan asam folat adalah istilah yang mengacu pada unsur kimia yang terdapat dalam suplemen atau sebagai fortifikan.

Secara alamiah, folat terdapat dalam berbagai struktur kimia. Folat yang ditemukan pada pangan dapat langsung dimetabolisme di dalam tubuh manusia. Berdasarkan berbagai penelitian, asam folat atau folat telah diketahui memiliki berbagai efek yang sangat menguntungkan bagi kesehatan manusia.

Sumber folat alami terutama adalah sayuran berdaun hijau tua (bayam, asparagus), buah-buahan, baik segar maupun sarinya, polong-polongan, biji-bijian, susu, daging, serta sereal yang difortifikasi (produk gandum dan sereal sarapan) (Lombardi, 2003).

Fungsi Asam Folat

Satu-satunya fungsi dari koenzim folat dalam tubuh adalah sebagai perantara dalam transfer unit-unit berkarbon tunggal. Koenzim folat berperan sebagai akseptor dan donor dari unit berkarbon tunggal dalam berbagai reaksi yang sangat penting dalam metabolisme asam nukleat dan asam amino.

Dalam metabolisme asam nukleat, koenzim folat memiliki peran yang sangat vital melalui dua jalur. Jalur pertama adalah dalam sintesis DNA dari prekursornya, yang sangat bergantung pada peran folat. Jalur yang kedua adalah peran koenzim folat dalam sintesis metionin.

Metionin adalah asam amino yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan S-adenosilmetionin (SAM). SAM adalah donor grup metil (unit berkarbon tunggal) yang digunakan dalam berbagai reaksi metilasi biologis, termasuk metilasi sejumlah sisi DNA dan RNA (Marinus, 2003). Metilasi DNA sangat penting dalam pencegahan kanker.

Koenzim folat juga dibutuhkan dalam metabolisme beberapa asam amino, seperti sintesis metionin dari homosistein dan pembentukan vitamin B12. Defisiensi folat dapat menyebabkan penurunan sintesis metionin dan peningkatan produksi homosistein. Kenaikan jumlah homosistein di dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan beberapa penyakit kronis lain.

Metabolisme homosistein menjadi metionin yang melibatkan koenzim folat ternyata juga memiliki jalur lain. Jadi, selain menghasilkan metionin, proses tersebut juga menghasilkan asam amino sistein dengan bantuan dua molekul vitamin B6.

Berdasarkan siklus metabolisme yang terjadi, jumlah homosistein di dalam darah diregulasi oleh tiga vitamin, yaitu asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12 (Marinus, 2003).

 

Kecukupan Asupan

Berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA), kecukupan asupan folat ditentukan berdasarkan perannya dalam menghasilkan jumlah sel darah merah yang normal dan jumlah homosistein darah yang stabil. Kecukupan juga ditentukan berdasarkan cadangan folat yang ada di dalam hati. Kecukupan folat bagi wanita hamil juga ditentukan berdasarkan pertimbangan tersebut. 

Sejauh ini kecukupan folat bagi wanita hamil belum mempertimbangkan adanya gangguan lain yang mungkin muncul selama kehamilan akibat defisiensi folat seperti Neural Tube Defect (NTD). Folat sebagai pencegah penyakit tertentu dikategorikan sebagai folat yang harus disuplementasi selama kondisi yang diperlukan.

Kecukupan folat dinyatakan dalam satuan yang lain. Satuannya adalah Dietary Folate Equivalent (DFE). Penggunaan satuan ini dimotori oleh Food and Nutrition Board, Institute of Medicine, Amerika Serikat. 

Penggunaan satuan DFE dalam kecukupan folat merefleksikan suatu ketersediaan asam folat sintetik yang lebih tinggi daripada asam folat alami yang terdapat dalam pangan. Hal tersebut berhubungan dengan daya cerna dan daya serapnya.

 

 

Perhitungan dengan satuan DFE dilakukan dengan ketentuan: (a) 1 mikrogram (mcg) folat alami dalam pangan = 1 mcg DFE, (b) 1 mcg folat dalam pangan fortifikasi = 1,7 mcg DFE, (3) 1 mcg suplemen folat tanpa konsumsi pangan = 2 mcg DFE.

Contoh perhitungannya, bila satu takaran saji makanan mengandung 60 mcg folat, akan menyumbangkan 60 mcg DFE. Sementara itu, konsumsi satu porsi pasta yang difortifikasi folat sejumlah 60 mcg akan menyumbangkan 1,7 x 60 mcg = 102 mcg DFE karena ketersediaannya lebih tinggi. Sementara itu, konsumsi suplemen folat berdosis 60 mcg tanpa didampingi oleh konsumsi pangan lainnya akan menyumbangkan 2 x 60 mcg = 120 mcg DFE bagi tubuh.

 

Defisiensi

Defisiensi folat dapat disebabkan oleh beberapa kondisi. Penyebab utama adalah kurangnya asupan folat melalui pangan, rendahnya penyerapan usus terhadap folat, serta gangguan penyerapan akibat konsumsi alkohol. Kondisi lainnya yang perlu diwaspadai adalah masa kehamilan.

Saat kehamilan terdapat laju pembelahan sel dan sintesis asam amino yang tinggi. Keadaan ini dapat menyebabkan defisiensi asam folat apabila tidak ditunjang oleh asupan yang memadai.

Kondisi yang juga dapat memacu defisiensi adalah masa penyembuhan penyakit tertentu yang mengharuskan konsumsi obat-obatan tertentu. Zat-zat dalam obat dapat mengikat folat yang terdapat dalam pangan dan menyebabkan ketersediaan folat di dalam tubuh menjadi menurun, sehingga terjadi defisiensi.

Gejala-gejala defisiensi pada tahap awal mungkin tidak dapat dideteksi secara visual, tetapi bisa diketahui dengan pemeriksaan darah yang menunjukkan kenaikan kadar homosistein darah. Gejala defisiensi folat sangat rentan pada individu yang sedang mengalami fase pembelahan sel cepat, yaitu masa kehamilan atau masa pertumbuhan.

Apabila pada fase tersebut tidak terdapat cadangan folat yang cukup, pembelahan sel akan menjadi abnormal. Risiko bahaya akan semakin tinggi apabila abnormalitas pembelahan sel terjadi pada sel tulang dan sumsum tulang belakang.

Abnormalitas akan menyebabkan sel-sel darah merah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit jumlahnya, tetapi memiliki ukuran yang lebih besar daripada normal. Kondisi semacam ini disebut sebagai anemia megaloblastik atau anemia makrotik, yaitu suatu kondisi yang sama persis anemia yang terjadi akibat defisiensi vitamin B12.

Keadaan anemia dapat menyebabkan fungsi sel darah merah menurun. Suplai oksigen yang harus diberikan pada sel-sel tubuh yang lain menjadi berkurang. Keadaan rendah oksigen dapat menyebabkan gejala-gejala kelelahan, lemah dan lesu, napas pendek dan terengah-engah

Cegah Penyakit Kardiovaskular

Kenaikan homosistein dalam darah disebabkan oleh tidak terjadinya perubahan homosistein menjadi metionin yang dimotori oleh folat. Lebih dari 80 penelitian menemukan bahwa kenaikan homosistein darah dapat menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sebuah penelitian menemukan bahwa penurunan homosistein darah sebesar 1 mikromol per liter telah dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 10 persen.

Mekanisme spesifik homosistein dalam menyebabkan penyakit kardiovaskular belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa peneliti telah menduga bahwa mekanismenya berhubungan dengan penggumpalan darah, vasodilasi arteri, dan penebalan dinding arteri. Sayangnya, tetap tidak ditemukan suatu bukti ilmiah bahwa menurunkan jumlah homosistein darah selalu akan menurunkan risiko kardiovaskular pada tingkat yang sama.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa suplementasi folat yang cukup, baik bagi pria mupun wanita, dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 45 persen. Meskipun demikian, mekanisme pencegahan dan penurunan risiko kardiovaskular oleh folat belum dapat diketahui secara pasti. Kesimpulan sementara para ilmuwan adalah mekanismenya merupakan suatu interaksi positif antara homosistein, folat, vitamin B6, dan vitamin B12.

Tingkatkan Kemampuan Otak Simpan Memori

Peran folat dalam metabolisme asam nukleat dan reaksi metilasi dapat menunjang kinerja dan fungsi otak yang normal. Dalam beberapa penelitian, sejumlah dosis suplemen folat diberikan kepada para lansia yang mulai mengalami penurunan daya ingat dan dementia. Hasilnya adalah peningkatan dalam kemampuan menyimpan memori jangka pendek.

Folat diketahui dapat menghambat atropi sel-sel otak yang berjalan secara alami seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian dilakukan terhadap otak penderita alzheimer yang telah meninggal dunia.

Belakangan juga diketahui bahwa Alzheimer memiliki hubungan erat dengan kandungan homosistein darah dan vitamin B12. Kandungan vitamin B12 plasma yang rendah (kurang dari 150 piktomol/liter) atau kandungan folat plasma yang rendah (kurang dari 10 nmol/liter) dapat melipatgandakan risiko Alzheimer dan dementia vaskuler. Kadar homosistein darah yang melebihi 14 mikromol/liter juga diduga dapat meningkatkan risiko Alzheimer hingga dua kali.

Belum pernah dilaporkan adanya dampak negatif akibat konsumsi folat yang berlebihan. Dosis maksimum diterapkan hanya pada asam folat sintetis. Meskipun demikian, perlu ditetapkan batas maksimum konsumsi folat berdasarkan perannya. Folat yang berlebihan ternyata dapat menyebabkan defisiensi vitamin B12 yang menyebabkan anemia megaloblastik.

Prof. DR. Made Astawan - Dosen Di Departemen Teknologi Pangan Dan Gizi-IPB